Senin, 16 Mei 2011

[repost] Mug kopi

Dia yg mengibaratkan hatinya seperti mug kopi, bukan aku. Pertama karena biasany orang umum mengibaratkan hati seperti gelas kaca, yg jelas2 lbh rapuh dr sebuah mug, dan yg kedua kalo pun harus memilih jenis gelasnya, mungkin aku lebih memilihkan cangkir teh karena dia sendiri yg bilang dia lbh suka teh. Tp ternyata memilih perumpamaan hati ga ada hubungannya dengan minuman kesukaan orang tersebut. Jadi dia memilih mug. Kupikir mgkn mug lbh tebal dan lbh tidak mudah pecah, seperti bgtlah hati laki2ny, lbh kuat dan tidak rapuh... Pegangan yg longgar telah melepaskan mug kopi itu sampai terhempas k permukaan paling keras, lantai kenyataan, hingga dia hancur. Well, kata punya kata, cerita punya cerita, dia berhasil menyusun hatiny yg sudah pecah. Namun retak itu tetap dsana. Membuatnya menyimpan mug itu tinggi2 d dalam lemari. Tak tersentuh apalg kalo tinggimu cm semeter lebih. Mungkin jg mug itu tak lagi mampu menampung kopi.

Haduh, padahal aku baru saja membeli sekotak teh di supermarket. Tehnya enak, namanya asing tapi anggun, Earl Grey Tea... Lapis pertama aromanya seperti herbs, something that makes u feel healthy just by sinking ur nose into the air of it. Lapis berikutnya aroma akrab teh dan something acid. Teh yang enak. Aku ingin dia mencicipinya juga, dan akhirnya menyukainya. Nanti bisa berdua menghabiskan sekotak teh itu. Tapi kalo dia menyimpan gelasnya jauh-jauh, lha.. aku bisa apa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar